Bang Bing Bung yuk Kita Nabung
Asal mula celengan berakar dari kebutuhan manusia untuk menyimpan kepingan perniagaan, dengan bukti tertua berasal dari abad ke-2 pada masa Yunani Kuno tepatnya di daerah Preine. Berbentuk miniatur kuil Yunani kuno, dengan celah kecil di bagian pedimen (bagian berbentuk segitiga yang berada di bawah atap kuil Yunani). Celengan tanah liat paling tua juga ditemukan di Pompeii, Herculaneum, Romawi Inggris, dan sepanjang Sungai Rhine. Ditempat – tempat tersebut, tanah liat sebagai bahan celengan disebut dengan tanah liat ”pygg”. Dari sinilah dimungkinkan muncul istilah Piggy Bank (Celengan) di belahan bumi barat.
Bergeser ke belahan bumi timur, era keemasan Majapahit yakni pada abad ke 13 dan 14 mencatat bukti peradaban ekonomi mereka juga menggunakan Celengan Terkota sebagai tempat penyimpanan koin kepeng dan gobog. Celengan yang diproduksi di masa itu banyak yang berbentuk babi, kenapa? Pada kala itu, babi dianggap sebagai binatang yang menggambarkan kemakmuran. Babi dapat beranak pinak dengan jumlah yang banyak dalam kurun waktu yang pendek. Begtu juga dengan menyimpan uang di celengan, di asumsikan uang yang terkumpul pun dapat semakin banyak dan melimpah. Ketika ditarik benang merah sejarah peradaban celengan, dapat ditelusuri juga beberapa bukti alat rumah tangga pada masa Kerajaan Kahuripan juga menggunakan tanah liat sebagai bahan dasarnya, pun digunakan sebagai alat menyimpan alat tukar yang tidak hanya berupa kepingan namun juga benda – benda kecil unik lainnya.
Banyaknya temuan celengan di daerah Trowulan, Mojokerto menunjukkan bahwa tradisi menabung telah berlangsung secara sistematis sejak masa Majapahit. Jenis mata uang yang ditabung kemungkinan besar adalah kepeng atau logam, didasarkan pada temuan-temuan uang kepeng di dekat celengan dan perbandingan antara ukuran mata uang dengan ukuran lubang pada celengan untuk memasukkan uang. Jenis mata uang logam yang paling banyak ditemukan di Trowulan berasal dari Dinasti Song (abad X – XIII). Ada pula mata uang dari Dinasti Tang, Ming, dan Qing.
Dengan ditemukannya celengan, tergambar bahwa kehidupan ekonomi masyarakat Majapahit cukup baik dimana mata uang tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar bisnis, tetapi juga sebagai alat penyimpan nilai.

