CERITA SILAT KHO PING HO


Dimulai dari seorang pria peranakan Tionghoa bernama Kho Ping Hoo (1926–1994) dengan nama pena Asmaraman Sukowati. Ia adalah maestro cerita silat (cersil) Indonesia asal Sragen yang produktif berkarya dari 1960-an hingga 1980-an. Hanya berbekal mesin ketik manual, ia menghasilkan lebih dari 200 judul cersil bertema Wuxia Tiongkok dan Nusantara.

Sekitar tahun 1951 Kho Ping Hoo mulai menulis cerita. Sebelum dikenal sebagai penulis cerita silat, Kho pun menulis cerita detektif, novel, dan cerpen yang dimuat dalam berbagai majalah, antara lain Liberty, Star Weekly, dan Pancawarna.

Memulai karir menulis cerpen di majalah dan koran. Serial pertama Asmaraman adalah Pek Liong Po Kiam (Pedang Pusaka Naga Putih), mulai ditulis pada 1959 dan terbit tahun 1960. Cerita ini menjadi babak pembuka tenarnya cerita silat legendaris yang tidak hanya dikenal kalangan berada, namun juga kalangan bawah. Uniknya, Setelah pindah ke Solo, Kho Ping Hoo mendirikan penerbitan sendiri, CV Gema, untuk memproduksi karyanya secara mandiri.

Selain membuat cerita silat dengan tema mandarin, Kho Ping Hoo pun juga menulis karya berlatar sejarah Indonesia, seperti Bajak Laut Kertapati dan Darah Mengalir di Borobudur.

Pada tahun1970-an – 1980-an merupakan masa kejayaan Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo dengan karyanya yang mencapai puncak popularitas. Dalam sekali terbit dapat mencapai lebih dari

10.000 eksemplar per jilid.

Peran Kho bagi kehidupan sastra di Indonesia adalah pengaruhnya yang kuat dalam memotivasi penulis-penulis pribumi untuk membuat jenis cerita yang sama, yaitu silat. Mereka yang mengikuti jejaknya antara lain S.H. Mintardja, Herman Pratikto, dan Arswendo Atmowiloto.

Karya Kho Ping Hoo yang terkenal, antara lain, adalah (1) Patung Dewi Kwan Im (1960. Jakarta: Analisa), (2) Pendekar Bodoh (1961, Tasikmalaya: Gema), (3) Darah Mengalir di Borobudur (1961. Jakarta: Analisa), (4) Badai Laut Selatan (1969. Solo: Gema), (5) Pendekar Super Sakti (1969. Solo: Gema), (6) Perawan Lembah Wilis (1970. Solo: Gema), (7) Istana Pulau Es (1972. Solo: Gema), (8) Bu Kek Siansu (1973. Solo: Gema), (9) Keris Pusaka Nogo Pasung (1980. Solo: Gema), (10) Si Pedang Tumpul (1984. Solo: Gema), dan (11) Asmara Si Pedang Tumpul (1985/1986. Solo: Gema).

Hubungi WhatsApp Kami