KASET PITA ANAK

Senandung Masa Lalu Lewat Pita

Era kejayaan kaset pita atau lebih dikenal dengan kaset barangkali telah surut digantikan teknologi digital yang lebih canggih. Tapi pesona kaset yang pernah begitu populer di Indonesia pada tahun 1970an hingga 2000an masih melekat di kalangan penggemar musik.

Kaset kali pertama diperkenalkan oleh perusahaan elektronik asal Belanda, Phillips, dengan nama compact cassette. Pada 1963, kaset pita diperkenalkan pada gelaran Berlin Radio Show di Jerman. Di Indonesia, industri musik di Indonesia menunjukkan perkembangan yang pesat ditandai dengan munculnya label rekaman milik pribumi pada era 1950-an. Beberapa nama label tersebut adalah Irama Record, Remaco, Lokananta, Mesra Record, dan lainnya.

Abang tukang bakso mari-mari sini. Aku mau beli. Sepenggal lirik ini berasal dari lagu anak-anak berjudul “Abang Tukang Bakso”. Ia muncul pada dekade 1990-an. Liriknya pendek. Pilihan lemanya sederhana. Tapi lagu ini sangat populer dan punya pengaruh kuat pada perkembangan anak-anak. Usia anak – anak diajarkan untuk mandiri, menanyakan harga dan membayar sendiri. Terdapat lirik juga yang mengajarkan bahwa ketidak jujuran akan mendapat petaka.

Pencipta lagu anak-anak dekade 1950-an berasal dari kalangan pendidik taman kanak-kanak. Mereka punya bekal pendidikan bagus dari masa kolonial. Pencipta lagu masa ini antara lain Pak Kasur (Soerjono), Ibu Sud (Saridjah Niung), dan Pak Dal (Daldjono Hadisudibyo). Lagu-lagu ciptaan mereka terdengar dan populer melalui siaran Radio Republik Indonesia dan majalah anak-anak. Di masa tersebut anak mengakrabi tema transportasi, cinta tanah air, dan penghargaan pada lingkungan (hewan dan alam). Pak Kasur menciptakan “Naik Delman”, “Tetap Merdeka”, dan “Kucingku”; Ibu Sud membuat “Naik Kereta Api”, “Berkibarlah Benderaku”, dan “Burung Ketilang”; sedangkan Pak Dal menyusun “Berlabuh” dan “Bintang Kecil”.

Salah satu penyanyi cilik yang tenar kala itu adalah Chicha Koeswoyo, ia bisa dikatakan sebagai penyanyi cilik pertama yang membuat album rekaman di Indonesia. Keberhasilannya menjadikan pelopor bagi penyanyi cilik lainnya pada masa itu seperti Adi Bing Slamet, Yoan Tanamal, Ira Maya Sopha, Dina Mariana, Vien Is Haryanto, Bobby Sandhora, Puput Novel, Iyut Bing Slamet, dsb. Jejaknya ini diikuti pula oleh adik kandungnya Hellen Koeswoyo dan sepupunya Sari Yok Koeswoyo.

Kesuksesan album-albumnya menjadikan Cicha terkenal sebagai penyanyi cilik dengan lagu bertema anak-anak. Pada masa itu ia menjadi artis cilik yang paling populer dan paling sering tampil di layar televisi nasional saat itu TVRI. Selain bersolo album, Chicha juga pernah berduet dengan Adi Bing Slamet dalam beberapa album dan terakhir dengan Chandra Darusman saat usianya meulai menginjak remaja. Selain itu sejumlah album Pop Natal, Qasidah, dan Operet telah dirilisnya untuk menyenangkan hati penggemarnya.

Kekuatan, tema, dan lirik lagu-lagu anak belum banyak berubah pada dekade 1970-an. Sebagian besar masih berciri serupa dekade sebelumnya. “Masih bersifat sederhana, dalam arti bahwa yang dijadikan tema lagu anak-anak adalah sesuatu yang dekat dengan diri anak

Dalam dekade 1980-an, lagu anak-anak Indonesia memperoleh pengaruh dari pertautan kebudayaan lokal dan luar. Peningkatan pendapatan ekonomi sekelompok masyarakat menciptakan kebutuhan akan informasi yang lebih besar. Dari sini dongeng, legenda, dan cerita negeri Barat merasuk dalam lagu-lagu anak. Beberapa tema cerita dari Barat yang terkenal dengan cerita Cinderella, tampil dalam syair lagu anak-anak tahun 80-an. Tema baru lagu anak-anak pada dekade 80-an juga meliputi mainan dan tempat wisata.

Hubungi WhatsApp Kami