KOMIK INDONESIA

Dari Kisah Wayang hingga Jago Tembak

Geliat komik di Indonesia tidak lepas dari antusiame masyarakat yang semakin mencintai gaya penyampaian para komikus. Baik dari bentuk visual hingga percakapan, sangat sesuai dengan kondisi masyarakat pada masa tersebut. Salah satu komik yang diterima baik oleh masyarakat adalah karya R.A Kosasih. Pria berdarah Sunda kelahiran Bogor, 4 April 1919 ini sukses dengan komiknya bertema pewayangan Mahabarata dan Ramayana sehingga ia, dari 1955 sampai 1960, tidak pernah berhenti membuat puluhan jilid komik untuk memuaskan pembacanya. Kosasih memerlukan waktu dua tahun untuk menggambar 26 jilid Mahabharata. Dia menyelesaikan satu jilid setebal 42 halaman setiap bulannya, kemudian lakon Bharatayudha, Pendawa Seda, Parikesit, dan Udayana, masing-masing 4 jilid.

Ketika popularitas komik wayang menurun, Kosasih beralih membuat komik legenda seperti Lutung Kasarung, Sangkuriang, dan dongeng untuk anak-anak. Pada 1967-1968, penerbit Melodi sementara berhenti menerbitkan komik. Kosasih pun menerbitkan komik silat di penerbit Lokadjaja, Jakarta. Penerbit Melodi kembali ingin menerbitkan komik wayang. Kosasih diminta bantuannya karena dia satu-satunya komikus yang paling mampu mentransformasikan mitologi itu ke komik. “Penerbit dengan tidak ragu-ragu membayarnya Rp80.000 untuk dua jilid Bomantara (masing-masing 80 halaman), komiknya yang terbaru. Komik Kosasih dianggap sebagai karya klasik yang dicetak ulang berkali-kali.

Hubungi WhatsApp Kami