KORAN JADOEL

Berita Akurat lewat Surat Kabar

Sejarah koran Indonesia dimulai tahun 1744 dengan Bataviasche Nouvelles (Belanda), berkembang pesat di era kolonial sebagai alat informasi dan perjuangan, hingga menjadi corong kebangsaan dengan Medan Prijaji (1907) oleh Tirto Adhi Soerjo yang mengusung suara pribumi, lalu berlanjut di masa kemerdekaan dengan peran vital dalam menyebarkan proklamasi dan perjuangan nasional seperti Indonesia Raya, mengalami kontrol ketat di Orde Lama/Baru, dan mencapai kebebasan pers pasca-Reformasi.

Secara detail linimasa, perkembangan koran di Indonesia dibagi menjadi dua babak. Pada babak pertama, sekitar tahun 1744-1854, surat kabar muncul dengan redaksinya adalah para orang Eropa. Bahasa yang digunakan untuk menuliskan informasi dan beritanya menggunakan bahasa Belanda karena sasarannya adalah untuk kepentingan Belanda dan tidak ada kaitannya dengan bumiputera.

Lalu, babak kedua yakni pada tahun 1854 sampai masa Kebangkitan Nasional. Pada babak ini, surat kabar yang menggunakan bahasa Belanda masih tetap ada tetapi muncul surat kabar dengan bahasa Melayu di tengah masyarakat Indonesia. Lalu, pada tahun 1860-1880, surat kabar dengan bahasa pra-Indonesia dan Melayu semakin berkembang dan bermunculan di tengah masyarakat Indonesia. Kemudian sekitar tahun 1920-an, muncul surat kabar yang pemiliknya adalah orang bumiputera yang diberi nama Bromartani dan terbit di Surakarta.

Pasca Kemerdekaan (1945 – 1960-an). Surat kabar mulai menjadi sorotan lebih luas yakni Pasca-Proklamasi Koran berperan penting, misalnya Soeara Asia menyiarkan teks Proklamasi (18 Agustus 1945). Selain itu, koran juga sebagai Pilar Bangsa. Koran seperti Indonesia Raya (1949) di bawah Mochtar Lubis menjadi pelopor jurnalisme investigatif dan kritis terhadap pemerintah, serta Panjimas (1946) milik Agus Salim.

Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, koran memiliki peran penting dalam penyampaian informasi yang akurat dan terpercaya salah satunya dengan menyebarkan perkembangan berita pendudukan wilayah kolonial hingga berita nasional. Yang kedua untuk tujuan Pendidikan & Nasionalisme dengan membentuk kesadaran nasional di kalangan bumiputra. Sebagai alat Kritik & Kontrol, penguasa dan kebijakan, menjadi “pilar keempat” demokrasi. Dan pastinya, koran pasca kemerdekaan juga menjadi salah satu Alat Politik dengan Mendukung atau mengkritik program pemerintah.

Hubungi WhatsApp Kami