Nostalgia dari Sampul Lama
Keberadaan majalah ini muncul tidak lama setelah surat kabar muncul. Di Indonesia, keberadaan majalah mempunyai sejarah yang cukup lama dan dibagi menjadi empat periode, yakni pada awal kemerdekaan, zaman orde lama, zaman orde baru, dan zaman reformasi. Sejarah perkembangan majalah sebagai media massa di Indonesia, dimulai pada zaman kolonialisme Belanda. Pada tahun 1853, majalah yang terbit di Indonesia pertama kali memiliki tajuk Tijdschrift voor Indische Taal – Land En Volkenkunde (disingkat TGB) yang diterbitkan oleh Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Ikatan Kesenian dan Ilmu Batavia). Sebelum kemerdekaan Indonesia tahun 1945, ternyata sudah banyak majalah yang diterbitkan juga oleh pihak Indonesia. Sebut saja majalah Soewara Moehammadijah, majalah Adil, dan majalah Daulat Ra’jat. Perlu diketahui bahwa Majalah Soewara Moehammadijah ini diterbitkan dalam bahasa dan aksara Jawa, yang terbit di Yogyakarta sejak tahun 1915 dan masih diterbitkan oleh Muhammadiyah sampai sekarang lho. Majalah – majalah jadul seringkali memiliki ciri tertentu dibandingkan majalah masa kini yang sebagian besar membahas tentang gosip dan infotaiment saja. Hal yang menarik dari majalah jadul diantaranya, Isi Konten yang Fokus pada profil artis era itu, juga mengangkat komik terjemahan, tips, gaya hidup remaja, musik, film, dan rubrik khas seperti “MOKA” (Model Kawanku). Tampilan Fisik majalah jadul terkadang dicetak dengan kertas murah (pulp) atau kertas berkualitas lebih baik, dan memiliki desain sampul yang ikonik dan seringkali berwarna. Semua itu ditujukan agar setiap kalangan dapat membeli sesuai kemampuan keuangan masing – masing. Untuk Genre sangat beragam, dari majalah anak seperti halnya Bobo (1973), Mombi , Ananda, hingga majalah remaja pria dengan nama HAI (1977) dan untuk wanita yakni Kawanku (1970), Femina (1972), Gadis (1973), Kartini (1974), Anita, Cemerlang, Ayah Bunda, Family.

