PATAKA NUSANTARA

PATAKA NUSANTARA

PATAKA

Secara harfiah, Pataka (Bhs. Inggris: guidon) adalah sejenis bendera yang digunakan dalam peperangan untuk memberitahu titik berkumpul kepada anggota pasukan atau menandai lokasi panglima perang.

Namun dalam realitas sejarah, fungsi Pataka tidaklah sesederhana itu, sebab Pataka adalah perangkat legitimasi dari kedudukan seseorang sekaligus merupakan identitas dari orang dalam kedudukan tersebut. Seorang raja tanpa Pataka, bukanlah seorang raja ! Seorang pimpinan pasukan tanpa Pataka, tentulah bukan pimpinan pasukan ! Telah banyak terjadi dalam sejarah, kedudukan seorang raja tidak diakui oleh kawulanya karena sang raja kehilangan patakanya. Dari sini kita bisa mengerti bahwa Pataka juga berarti adalah manifestasi dari spiritual si penyandangnya, baik itu raja, panglima perang, atau pimpinan pasukan. (–)

 

  1. SANG PADMANABA WIRANAGARI

Pataka ini termasuk pusaka yang paling dihormati pada masa berlangsungnya Kerajaan Singhasari dan Majapahit. Sementara ahli berpendapat bahwa pataka ini telah digunakan sejak masa pemerintahan Wishnuwardhana (1248-1268) di Singhasari. Ketika Kertanagara tewas dalam pemberontakan Jayakatwang pada 1293, pataka ini diselamatkan oleh Raden Wijaya, untuk kemudian dijadikan lambang kebesaran untuk raja – raja Majapahit. Berbagai pemberontakan dan perang saudara yang terjadi selama puluhan tahun di Majapahit agaknya tak membuat pataka ini berpindah dari tempatnya kraton Majapahit. (–)

2. SANG DWIJA NAGA NARESWARA

Berupa tiga mata tombak penuh hiasan yang dua di antaranya berdiri di atas kepala raja naga, dan berasal dari zaman keemasan kerajaan Majapahit pada pertengahan abad XIV, pataka ini tergolong pusaka terpenting dan paling dihormati pada masanya. Sebagai sebuah peranti bagi legitimasi sebuah kekuasaan, ia hampir merupakan manifestasi dari Kerajaan Majapahit itu sendiri, yang eksistensinya sangat menentukan keberlangsungan pemerintahan kerajaan. Tidaklah heran jika sepeninggal Hayam Wuruk pada 1389, pataka ini senantiasa menjadi incaran para pihak – pihak yang melakukan makar di kerajaan itu. (–)

  1. SANG HYANG NAGA AMAWABHUMI

Berupa seekor raja naga dengan sisiknya yang besar-besar dan tampak perkasa, serta lidahnya menjulur dan mulutnya dapat menyemburkan api, sementara di mahkotanya terdapat sebutir permata besar, dan di belakang mahkota terdapat sebuah pankha (kipas) tengah berdiri, pataka ini adalah perangkat legitimasi seorang raja sebagai penegak hukum dan keadilan bagi kawulanya. Lewat apa yang dilambangkan pada pataka ini kita mengetahui bahwa pada masa zaman Majapahit bangsa ini telah memiliki para raja yang bijaksana dengan pemerintahan yang teratur. (–)

  1. SANG GURDHAISHWARA NAGADAHANA GANDHELA

Dibuat pada masa kejayaan kerajaan Majapahit, pataka ini berupa seekor raja naga bermahkota yang dengan perkasanya “berdiri” dalam sikap siap menyemburkan api. Di belakang mahkotanya berdiri sebilah mata tombak yang pada pangkalnya terdapat hiasan berupa 2 ekor naga saling berhadapan, dan di antara keduanya terdapat seekor capung. Dari gambaran fisik ini, sementara ahli berpendapat bahwa ini adalah pataka yang merupakan identitas seorang panglima pasukan kerajaan sewaktu bertugas di medan perang, dan mewakili sikap adil dan bijaksana dalam setiap tindakan. (–)

  1. SANG PANCABHADRA MAHAWIRADANADYAKSA

Tidak termasuk ‘pataka utama’, diperkirakan dibuat pada masa Majapahit akhir di abad XV, pataka yang “dahsyat” ini berupa 5 mata tombak yang pada setiap pangkalnya terdapat hiasan berupa naga. Ke 5 mata tombak berhias ini berdiri di atas seekor kurma (kura – kura). Melambangkan penguasa yang rela berkorban serta bertanggungjawab akan kemakmuran dan kesejahteraan kawulanya. Para ahli memperkirakan pataka ini adalah perangkat legitimasi dari kedudukan seorang putra mahkota atau pangeran di kerajaan Majapahit, dan digunakan pada masa yang tidak lama. (–)

  1. SANG HYANG BARUNA RAJA NAGA BUNTALA

Mengambil nama Dewa Laut, Sang Hyang Baruna, pataka ini berbentuk tombak dengan sepasang matanya  masing – masing di atas kepala dan ekor dari Hyang Baruna, seekor raja naga yang gagah perkasa dengan mahkotanya berhias sebutir permata. Di zaman Majapahit, pataka ini merupakan simbol kekuatan maritim, dan biasanya dipasang di haluan dari kapal yang membawa raja atau wakil kerajaan. Bendera yang dipasang pada pataka ini bernama Getih – Getah Samudra. Pataka inilah yang pernah berkali – kali digunakan oleh Mpu Nala dalam ekspedisinya ke berbagai daerah di Nusantara. (–)

  1. SANG MAHANTAGEMALA NAGADIRANDRA (Pancasula Naga Amawabhumi)     Diperkirakan dibuat pada zaman Majapahit akhir di abad XV, dan tidak lama dipergunakan, pataka ini merupakan perangkat legitimasi sekaligus identitas seorang panglima atau pimpinan suatu pasukan. Ia berupa lima mata tombak sebagai senjata (3 menghadap ke atas dan 2 menghadap ke bawah) lengkapi dengan sulur-sulu sebagai hiasannya sehingga tampak indah. Sementara ahli memperkirakan bahwa pataka ini – selain sebagai perangkat legitimasi sekaligus identitas – adalah juga sebagai lambang kebijaksanaan, keadilan, kekuasaan, dan kebesaran.  (–)
  1. SANG HYANG NAGAPRASANTI BUNTALA

Dalam mitologi di masa lampau, naga merupakan simbol dari kekuasaan, keadilan, kebijaksanaan dan keluhuran. Tidak heranlah kita jika kekuasaan di masa itu acap menampilkan naga sebagai bagian dari simbolnya. Pataka ini merupakan identitas sekaligus perangkat legitimasi seorang panglima pasukan berkuda kerajaan, yang bertugas mengamankan negara dari gangguan manusia maupun binatang buas. Tampil berupa  dua ekor naga yang masing – masing mulutnya menyemburkan api, sementara mata tombak bagian tengah dapat dipasang dan dilepaskan sesuai dengan kebutuhan. (–)

  1. KALACAKRA BUNTALA (Cakra Bhawana)

Dalam pengertian umum, Kalacakra adalah gambar seorang dewa yang tengah memegang perisai, di mana perisai tadi berisi semacam daftar, panduan atau rumusan tentang berbagai ritual atau kegiatan yang berhubungan dengan budaya, yang harus dan akan dilaksanakan oleh masyarakat setempat. Pataka Kalacakra ini adalah manifestasi identitas atau legitimasi kedudukan seorang cenayang yang merupakan pemimpin dari berbagai ritual atau kegiatan budaya yang secara berkala diselenggarakan oleh kerajaan. (–)

  1. PURNACAKRA MAKUTA BUNTALA

Cakra adalah salah – satu laksana dan senjata Dewa Wishnu. Berbentuk sebuah piringan yang pada sisi – sisinya terdapat lidah api yang menyala nyala, senjata yang amat sakti ini dapat dilemparkan hingga menyambar dan membakar sasarannya, sebelum kemudian senjata ini kembali lagi kepada pemiliknya. Dalam paradigma semacam itulah para raja bawahan Majapahit di daerah – daerah mengangkat cakra ini sebagai patakanya sebagai identitas dan legitimasi dirinya sebagai penguasa. Dalam hal ini terlihat sang penguasa menginginkan adanya ketaatan dari para kawulanya. (–)

Hubungi WhatsApp Kami