Nasgitel, Panas Legi dan Kentel
Awal mula tradisi minum teh di Cina terlacak pada masa Dinasti Han (206 SM – 220 M). Ditemukan secara tak sengaja oleh Kaisar Shen Nung, yang dikenal sebagai ‘Bapak Pengobatan Cina’. Saat itu, sang kaisar tidak sengaja menemukan teh ketika daun teh dari pohon liar jatuh ke dalam air panas yang dia minum. Sejak saat itu, teh mulai dikonsumsi sebagai minuman kesehatan dan ritual. Tradisi minum teh berkembang pesat selama Dinasti Tang (618-907 M) dan menjadi simbol keramahan, kesopanan, dan juga status sosial di Cina. Para bangsawan dan cendekiawan mengadakan upacara minum teh yang sangat rumit untuk ditiru.
Awalnya tanaman teh (Camellia Sinensis) dibawa dari Jepang oleh dokter dan ahli botani berkebangsaan Jerman Andreas Cleyer pada 1686 bukan sebagai minuman namun tanaman hias. Kesaksian rahib bernama F. Valentjin pada tahun 1694 menerangkan bahwa ia melihat tanaman teh di halaman gubernur Belanda Camphuys di Batavia. Pada tahun 1728 pemerintah Belanda mendatangkan tanaman teh dari China ke Indonesia untuk dibudidayakan secara masif di Jawa. Tanaman Teh menjadi tanaman wajib pada masa kultur stelsel.
Upacara minum teh terdapat di Kraton Yogyakarta yang sering disebut Upacara Patehan karena diadakan di Kepatehan. Upacara ini memiliki pakemnya sendiri yang berbeda dengan upaca minum teh di Jepang dan Inggris. Seperti Cangkir yang digunakan oleh Sultan memiliki ukuran yang kecil. Jadi ketika memakainya, sekali minum saja sudah habis. Selain ukuran yang tidak biasa, cangkir-cangkir itu sendiri juga memiliki corak warna bermacam-macam. Ada yang berwarna merah muda, bercorak emas, perak, atau warna yang lainnya. Corak warna-warna tersebut merupakan penanda tingkat jabatan orang-orang di dalam Kraton Yogyakarta. Secara khusus, tradisi Patehan sebenarnya tidak hanya satu versi melainkan tradisi ini juga dilaksanakan pada hari-hari besar seperti lebaran, ngapem, dan sungkeman. Namun, semuanya memiliki prosesi yang berbeda dengan Patehan yang dilaksanakan pada hari-hari biasa. Kekhasan dari teh yang disajikan pada tradisi Patehan adalah teh nasgitel alias panas, legi, kenthel.
Tradisi serupa juga ada di Keraton Solo, Jawa Tengah. Satu di antara kerajaan yang memiliki tradisi minum teh adalah Kadipaten Mangkunegaran atau yang sering disebut Praja Mangkunegaran. Dalam upacara tersebut, terdapat tim pembuat minuman di Kadipaten, dari menyiapkan air, meracik teh dan dan menyeduh teh yang disebut dengan Jayeng. Tradisi ini berkembang di masyarakat Solo sebagai budaya minum teh oplosan (campuran berbagai merek teh) yang pekat, harum, dan sepat, biasanya disajikan dengan gula batu. Selain sebagai konsumsi harian, tradisi ini merupakan bentuk sosialisasi dan keakraban masyarakat Solo (ngeteh bersama).

