SANG KUSUMA BANGSA YANG TERBUANG DI TEPI GANGGA (Juara 1) karya dari Tata Miftakhul Arif Yudianto
Angin senja berhembus membelai permukaan Sungai Gangga yang memantulkan cahaya keemasan. Di tepiannya yang sunyi, berdiri tegak ksatria rupawan berzirah yang memancarkan kewibawaan. Dialah Adipati Karna, penguasa negeri Awangga. Di balik matanya yang setajam elang, tersembunyi samudra duka tak bertepi. Perang agung Bharatayuddha tinggal menghitung hari. Padang Kurusetra telah memanggil darah para satriya menyucikan bumi dari dendam yang mengakar.
Karna memejamkan mata, meresapi desiran angin pembawa pesan dewata. Tiba-tiba, langkah kaki ragu memecah keheningan senja. Wanita sepuh berwajah memelas mendekatinya. Ia adalah Dewi Kunti, ibu suri dari para Pandawa.
“Karna, anakku …” rintih Kunti, suaranya bergetar menahan rindu dan penyesalan yang berpuluh-puluh tahun mengendap di dasar dada.
Hati Karna berdesir hebat, tetapi wajahnya tetap tenang dan merbawani (penuh wibawa). Ia sebenarnya sudah lama mengetahui rahasia itu. Rahasia bahwa ia adalah putra sulung Kunti, benih dewa matahari yang terpaksa dibuang ke sungai demi menjaga kehormatan sang ibu.
“Kanjeng Ibu,” balas Karna dengan lembut tetapi tegas, menyembunyikan getar emosinya. “Anakmu ini adalah Karna, putra Raden Adirata sang kusir kereta, bukan ksatria agung keturunan Bharata dari keraton Hastinapura.” Kunti tak kuasa menahan air matanya. Tangisnya pecah. Ia memohon agar Karna kembali ke pelukan saudara-saudaranya, bergabung dengan kelima Pandawa untuk menumpas keangkuhan Kurawa.
“Tinggalkanlah Duryudana, anakku. Kembalilah pada kebenaran. Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti. Segala bentuk angkara murka dan kejayaan yang tiran di muka bumi ini, pada akhirnya pasti akan hancur lebur oleh kebaikan dan keluhuran budi.” Karna tersenyum getir mendengar petuah ibunya.
Pepatah itu memang benar adanya, tetapi bagi Karna, kebenaran dan kebaikan memiliki wujudnya sendiri. Di saat dunia mencampakkannya karena kasta, ketika Pandawa menghinanya di arena pameran ketangkasan karena dianggap anak sudra, Duryudana lah yang mengulurkan tangannya. Duryudana memberinya mahkota, wilayah kekuasaan, yang paling penting yakni harga diri.
“Ibu, ketahuilah sebuah kebenaran mutlak bagi seorang ksatria,” ucap Karna sambil memandang ufuk barat yang perlahan memerah bak warna darah.
“Sabda pandhita ratu, tan kenging wola-wali. Ucapanku adalah janji sakral yang tak bisa ditarik kembali. Duryudana telah membeliku dengan kemuliaan dan kepercayaan. Sebagai ksatria, aku memegang teguh prinsip mikul dhuwur mendhem jero, mengangkat tinggi derajat rajaku dan memendam dalam-dalam kekurangannya.”
Karna mengambil napas panjang, membiarkan angin senja mengeringkan sudut matanya yang mulai basah. “Jika aku meninggalkannya di saat ia paling membutuhkanku untuk menghadapi Pandawa, maka aku lebih hina dari debu di telapak kaki anjing liar.” Kunti terisak, menyadari bahwa putranya kini menjelma menjadi batu karang yang tak bisa digoyahkan oleh air mata. Keteguhan hati Karna adalah wujud nyata dari satriya Pinandhita, seorang ksatria yang berjiwa pendeta, luhur, dan teguh pada kebenaran yang ia yakini, meskipun kebenaran itu perlahan membawanya pada jurang kehancuran.
“Namun, Ibu tidak perlu khawatir,” Karna melanjutkan, nadanya melunak, mencoba mengusap luka tak kasat mata di hati wanita yang telah melahirkannya itu. “Dalam perang suci nanti, aku bersumpah tidak akan membunuh Yudhistira, Bima, Nakula, maupun Sadewa. Hanya satu nyawa Pandawa yang akan aku buru, yaitu Arjuna. Kelak, siapa pun yang gugur di antara kami berdua, engkau akan tetap memiliki lima orang putra.” Janji itu bagaikan petir di siang bolong bagi Kunti. Jer basuki mawa beya, setiap kemuliaan dan kedamaian selalu menuntut pengorbanan yang tak murah, dan pengorbanan Karna adalah nyawanya sendiri demi menebus hutang budi sekaligus menjaga janji sucinya.
Kunti pun berlalu dengan gontai, membawa beban kesedihan yang tak tertanggungkan. Karna kembali berdiri sendiri, menghadap Sungai Gangga yang kini perlahan digelung kegelapan malam. Ia tahu, di Padang Kurusetra nanti, becik ketitik ala ketara, yang baik dan yang buruk akan terlihat dengan sendirinya akan berlaku.
Sejarah mungkin kelak akan mencatatnya sebagai sekutu angkara murka. Namun, di hadapan para dewa pencipta alam semesta, ia hanyalah seorang ksatria yang sedang menunaikan darma tertingginya yakni kesetiaan abadi. Angin malam kembali berhembus keras, menerbangkan helaian kain kebesarannya. Adipati Karna telah siap. Menyambut takdirnya, menyongsong senja terakhirnya, sebagai kusuma bangsa yang mekar di tanah yang salah, tetapi rela gugur dengan aroma harum semerbak yang akan dikenang sepanjang masa.
VERSI KITA YANG TIDAK TERJADI (Juara 2) karya dari Aurell Cathliniyah Ferdinandus
Mata hazel itu memandang gadis yang terduduk di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kepalanya menunduk dengan dalam membuat sebagian wajahnya tertutup oleh rambut hitamnya yang tebal. Tangan kekar pemilik mata hazel itu terulur untuk menyematkan helai rambut di belakang telinganya. Wajah cantik yang biasanya tersenyum cerah kini menampilkan ekspresi murung. Mata sang gadis memancarkan keraguan yang ketara. Rama, si pemilik mata hazel, sebenarnya sudah tahu pasti apa yang ingin dikatakan tetapi ia lebih memilih untuk menunggu.
“Aku dijodohkan,” satu kalimat singkat yang membuat dada Rama sesak. Gadis itu mendongakkan kepalanya untuk menatap mata favoritnya.
“Tidak masalah, itu keren.” Bohong, mulutnya boleh saja mengatakan hal tersebut, namun sesak di dadanya tidak dapat ditipu oleh siapapun.
Sinta, gadis yang sedari tadi kita bicarakan, terdiam mendengar kalimat yang keluar dari mulut kekasihnya. Dadanya sesak, rasanya ia ingin memamerkan kepada satu dunia jika ia dan Rama memiliki hubungan khusus. Seandainya saja tidak ada sistem kasta yang mengatur kehidupan seseorang mungkin mereka tidak perlu menyembunyikan hubungan ini. Mereka mungkin bisa mengatakan kepada semua orang jika mereka tidak memiliki hubungan apapun, namun mereka sendiri lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi. Rasanya seperti menjalin hubungan yang sangat terlarang dan hina.
Tapi di satu sisi Sinta tidak bisa begitu saja melepaskan status bangsawannya. Ia dihadapkan dengan dua pilihan, menikah dengan sesama bangsawan atau menikah dengan Rama dan melepaskan statusnya sebagai seorang bangsawan terpandang. Jelas pilihan yang sulit bagi Sinta, sedari kecil ia sudah terbiasa dengan hak Istimewa yang ia terima, harta yang melimpah dan perhatian orang-orang kepadanya.
“Kapan pernikahan kalian akan diselenggarakan?”
“Dua bulan lagi.”
Sedari awal Rama sudah mengatakan tidak apa-apa jika Sinta menjalin hubungan dengan bangsawan manapun untuk membunuh perasaannya kepada Rama, dan Sinta sendiri sudah pernah melakukan. Ia mencoba membangun hubungan dengan orang-orang yang setara dengan dirinya untuk menghindari perasaan itu dan itu merupakan alasan terbodoh yang pernah Sinta ambil. Hubungan yang awalnya semanis madu itu lama-kelamaan berubah sepahit dan dapat membunuh seperti racun hanya karena alasan yang tidak masuk di logika mereka.
Tapi, apa boleh buat, itulah aturan yang berlaku di tanah yang mereka pijak, hidup harus tetap berjalan. Entah jiwa dan ragamu yang melanjutkan atau hanya ragamu saja.
“Sinta, tolong cintai aku sepanjang durasi yang kau punya sebelum kau menyandang nama calon suamimu. Hanya itu keinginan terakhirku.”
Butiran kristal turun begitu saja dari mata indahnya. Sinta tidak menyangka jika hubungannya yang ia dambakan sedari kecil harus kandas begitu saja dua bulan lagi. Dosa apa yang Sinta perbuat di kehidupan sebelumnya hingga ia harus menanggung penderitaan seberat ini. Karma siapa yang Sinta tanggung selama ini. Sinta hanya ingin bersama Rama hingga matanya tidak lagi bisa melihat sesuatu dengan jelas dan rambut hitam kesayangannya berubah menjadi putih lalu ditemani oleh dua kembaran mereka, kehidupan yang sempurna. Ya, hanya itu keinginan sederhana Sinta.
Sedangkan Rama- ah, apakah seorang yang rendah dan hina seperti dirinya masih pantas mendapatkan hidup yang bahagia? Terkadang ia merasa tidak pantas mendapatkan cinta yang berlebih dari wanita bak dewi itu. Terdengar sedikit berlebihan, tapi memang itulah yang sebenarnya. Selama beberapa bulan ini mungkin Tuhan merasa kasihan kepada dirinya yang malang sehingga memberinya Sinta untuk sementara, dan besok Sinta akan menjadi milik pria lain. Pria yang setara dengan Sintanya.
Mata hazel Rama memandang dari jauh pesta pernikahan yang digelar dengan mewah. Jangankan menghadiri, diundang saja mungkin keluarga mereka akan merasa jijik kepadanya. Dada Rama berdenyut nyeri mendengarkan teriakan dan seruan bahagia orang-orang dari sana. Ada satu pelajaran yang Rama dapatkan yaitu pernikahan bagi orang kelas atas hanyalah sebuah transaksional, urusan cinta itu belakangan. Pada akhirnya Rama akan melanjutkan hidup dengan raga yang kosong.
Sinta sudah tahu akhirnya akan begini, ia bahkan sudah memperkirakan rasa sakit yang ia terima. Namun, rasa sakit yang ia rasakan ternyata jauh sekali dari perkiraannya. Hatinya terasa tertusuk ratusan belati lalu disiram oleh cuka dan garam. Perih dan sesak menjadi satu memenuhi dadanya. Otaknya terus saja mengatakan kalimat ‘seandainya saja…’ tanpa henti.
Mata Sinta perlahan terbuka lalu melirik jam yang tergantung di dinding. Pukul dua pagi, dari ekor matanya ia dapat melihat suaminya yang tertidur dengan lelap. Ia menyingkap selimut lalu Langkah kakinya menuntunnya untuk berjalan kearah kamar mandi. Saat membasuh mukanya Sinta menyempatkan diri memandangi dirinya di pantulan kaca. Otaknya tiba-tiba saja merekam kenangannya bersama Rama.
‘Aku benci mengatakannya, tapi aku sudah mengatakannya padamu,’
‘Kau tak lebih dari istrinya,’
‘Semoga kamu selalu dikelilingi keberuntungan, kasihku.’
Tidak hanya Rama saja yang melanjutkan hidupnya dengan raga yang kosong, pun dengan Sinta.
‘Semoga di kehidupan lainnya kita akan selalu bersama tanpa ada yang bisa memisahkan kita.’
