Di balik bentuknya yang sederhana, kaset pita menyimpan jejak panjang perjalanan musik Indonesia. Salah satu koleksi yang merekam perjalanan tersebut adalah kaset pita produksi Lokananta, studio rekaman legendaris yang berdiri di Solo, Jawa Tengah.
Lokananta didirikan pada tahun 1956 atas prakarsa R. Maladi, selaku Kepala Jawatan Radio Republik Indonesia (RRI), bersama Oetojo Soemowidjojo dan Raden Ngabehi Soegoto Soerjodipoero. Pada awalnya, Lokananta berfungsi untuk merekam bahan siaran radio dalam bentuk piringan hitam. Seiring perkembangan zaman, perannya semakin luas dan Lokananta mulai menjadi bagian penting dalam produksi serta penyebaran musik Indonesia.
Memasuki era 1960-an, berbagai karya musisi ternama seperti Gesang, Titiek Puspa, dan Bing Slamet turut menjadi bagian dari perjalanan Lokananta. Perkembangan teknologi kemudian membawa Lokananta memasuki era produksi kaset pita pada sekitar tahun 1970-an hingga 1990-an. Pada masa itu, kaset menjadi salah satu media populer untuk merekam, menyimpan, dan menikmati musik.
Koleksi kaset pita Lokananta memiliki keragaman yang mencerminkan kekayaan musik Nusantara. Gending dan gamelan Jawa, lagu-lagu daerah dari berbagai wilayah Indonesia, hingga musik pop komersial pernah direkam dan diproduksi melalui Lokananta. Setiap kaset menjadi lebih dari sekadar benda koleksi; di dalamnya tersimpan rekaman suara, cerita, serta gambaran kehidupan musik masyarakat pada masanya.
Kini, Lokananta yang berada di Jalan Ahmad Yani Nomor 387, Surakarta, telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya. Koleksi kaset pitanya menjadi pengingat bahwa suara dari masa lalu dapat menjadi jembatan untuk mengenal sejarah, budaya, dan perkembangan musik Indonesia hingga hari ini.
