Wayang pring atau wayang bambu merupakan salah satu bentuk kreativitas seni tradisional yang lahir dari tangan Ki Sri Widodo, seorang dalang asal Desa Balamoa, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Lahir pada 3 September 1974, Ki Widodo tumbuh dalam keluarga seniman. Kakeknya, Ki Suwati, dikenal sebagai dalang wayang kulit di Tegal, sedangkan ayahnya, Ki Gunawan, juga merupakan seorang dalang. Lingkungan tersebut membuat kecintaan Ki Widodo terhadap karawitan dan pewayangan tumbuh sejak kecil.
Setelah menyelesaikan pendidikan di SMKI Solo, ia melanjutkan studi karawitan di STSI Surakarta. Pada 2003, ketika mengerjakan tugas akhir, Ki Widodo bereksperimen membuat bunyi gamelan dari perpaduan karet dan bambu. Eksperimen tersebut kemudian menginspirasinya untuk menciptakan wayang berbahan bambu.
Bagi Ki Widodo, bambu memiliki filosofi kehidupan yang mendalam. Bambu tumbuh secara individual, tetapi tetap hidup berkelompok dan saling menopang. Filosofi inilah yang kemudian menjadi nilai penting dalam pertunjukan wayang pring, yaitu tentang kebersamaan, kemandirian, dan saling membantu.
Wayang pring pertama kali dipentaskan pada 11 Maret 2005 di Taman Budaya Surakarta. Setelah sempat vakum pada 2007, Ki Widodo menghidupkannya kembali di Tegal pada 2010. Ia kemudian membentuk Komunitas Wayang Pring Tegal. Untuk menarik perhatian masyarakat, wayang tersebut terus dikembangkan, termasuk membuat bagian kepala dapat bergerak ke kanan dan kiri seperti wayang golek. Hingga kini, wayang pring tidak hanya menjadi karya seni, tetapi juga sarana menyampaikan pesan moral dan melestarikan budaya Indonesia.
